Oleh : Aji P Mirnanto/Dunamis Consulting
Bagaikan sebuah perjalan perkembangan seekor kupu-kupu, mulai dari ulat, kepompong, lalu beralih menjadi kupu-kupu yang cantik. Begitu juga perjalanan dari implementasi Knowledge Management (KM) di perusahaan, bisa berkembang menjadi lebih baik, bermetamorfosis menjadi cantik, atau malah mati di tengah jalan. KM is a journey.
Akan tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari arah perkembangan KM di perusahaannya. Mereka merasa telah berada pada jalur yang benar, tetapi tiba-tiba terjebak pada upaya yang sia-sia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mengetahui pengembangan KM adalah dengan menggunakan KM Assessment. Dari assessment tersebut kita dapat mengetahui seberapa baik kita telah menerapkan KM dan seberapa besar pengaruh KM terhadap kinerja organisasi. Selain itu, yang terpenting adalah strategi kedepan yang dibuat berdasarkan assessment tersebut.
Beberapa tools yang dapat digunakan untuk mengukur perkembangan KM diantaranya adalah Most Admired Knowledge Enterprises (MAKE) Assessment, Collaborative Climate Survey (CCS), dan Intangible Asset Monitoring (IAM).
MAKE Study merupakan suatu studi yang dilakukan setiap tahun yang mengukur seberapa besar suatu organisasi dikagumi masyarakat untuk menjadi organisasi berbasis pengetahuan, atau Knowledge Enterprise. MAKE Study ini meliputi 8 kriteria: Kepemimpinan, budaya perusahaan, knowledge sharing dan kolaborasi, intellectual capital management, customer knowledge, inovasi, dan seberapa besar nilai tambah yang diberikan bagi perusahaan. MAKE Assessment merupakan suatu metode pengukuran dengan berbasis pada 8 kriteria tersebut. Selain memotret kondisi saat ini, alat ini juga membantu perusahaan dalam memformulasikan strategi agar dapat menjadi Knowledge Enterprises.
Collaborative Climate Survey merupakan instrumen hasil penelitian Hanken School of Economics, Finlandia dengan Queensland University of Technology, Australia, yang memperlihatkan bagaimana pengetahuan di suatu organisasi dapat mengalir secara efektif dan berpengaruh terhadap penciptaan nilai (value creation). Survei ini difokuskan pada empat faktor yang menggerakkan aliran pengetahuan dalam organisasi: Employee Attitude, Work Group Support, Immediate Supervisor, dan Organizational Culture.
Intangible Asset Monitoring merupakan metode yang mengukur pengaruh intangible assets terhadap kinerja organisasi dengan menggunakan 3 pilar : People Competence, Internal Process, dan External Structure. Pengukuran dibuat berdasarkan empat faktor utama dalam organisasi: Growth, Innovation/Renewal, Efficiency dan Risk. Dari hasil pengukuran ini, organisasi dapat memetakan sejauh mana peran intangible assets saat ini dan sisi mana yang perlu dioptimalkan.
Penggunaan ketiga tools tersebut disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Lama pengerjaan juga sangat bergantung dengan kondisi perusahaan. Pengukuran juga dapat dilakukan secara rutin, misalnya setiap tahun atau setiap dua tahun, agar perkembangan KM tetap berjalan dalam koridornya. Dengan arah perkembangan yang tepat, niscaya KM akan menjadi kupu-kupu yang memberikan nilai tambah positif terhadap perusahaan.
Aji Perdana Mirnanto
Relationship Manager – Dunamis Consulting
Dikutip dari DunamisNewsletter edisi Desember 2010

Kisah ini diambil dari cerita nelayan-nelayan di Jepang yang harus menjual ikannya dalam keadaan segar. Pada suatu saat nelayan-nelayan tersebut harus pergi melaut ke tempat yang cukup jauh untuk mendapatkan banyak ikan. Akibatnya, ikan yang tiba di pantai diterima pelanggan sudah tidak segar lagi, harga pun jatuh. Untuk mengatasi masalah tersebut mereka mengusahaakan lemari pendingin atau Frezer yang dibawa ke atas perahu. Akan tetapi usaha tersebut tidak dapat memuaskan pelanggan menikmati ikan segar, karena cita rasanya akan berkurang pada saat dibekukan, sehingga harga ikan-ikan tersebut semakin merosot tajam.